Di Tengah Gempuran Dunia Digital, Ade Ginanjar Ingatkan Bahaya Lunturnya Nilai Kebangsaan

GARUT TERKINI, – Derasnya arus digital yang tidak lagi mengenal batas ruang dan waktu menjadi perhatian serius Anggota DPR RI/MPR RI Fraksi Partai Golkar, Ade Ginanjar. Politisi muda asal Garut itu kembali turun langsung ke masyarakat untuk memperkuat pemahaman tentang pentingnya 4 Pilar Kebangsaan MPR RI sebagai benteng menjaga persatuan bangsa.
Sosialisasi tersebut digelar di Aula Desa Margawati, Kecamatan Garut Kota, Kabupaten Garut, dan dihadiri berbagai elemen masyarakat mulai dari tokoh pemuda, aparatur desa, tokoh masyarakat hingga warga sekitar. Dalam suasana yang penuh keakraban, Ade Ginanjar menegaskan bahwa tantangan bangsa saat ini tidak lagi hanya soal pembangunan fisik atau ekonomi, tetapi juga ancaman lunturnya nilai kebangsaan akibat pengaruh informasi digital yang begitu masif.
Menurut Ade, perkembangan teknologi memang membawa kemudahan dalam kehidupan masyarakat. Namun di balik kemajuan tersebut, ada ancaman serius yang harus diwaspadai bersama, terutama penyebaran hoaks, provokasi, intoleransi, hingga pola pikir individualistis yang perlahan bisa mengikis semangat persatuan bangsa.
“Dalam satu hari, saya terus melaksanakan sosialisasi 4 Pilar MPR RI. Ini sangat penting disampaikan kepada masyarakat di saat gempuran hebat melalui digital,” ujar Ade Ginanjar belum lama ini.
Putra pituin Garut yang akrab disapa Asgar itu menilai generasi muda menjadi kelompok yang paling rentan terpapar berbagai informasi negatif di media sosial. Karena itu, ia menekankan pentingnya pendidikan kebangsaan agar masyarakat, khususnya anak muda, tidak kehilangan identitas sebagai bangsa Indonesia.
Ade menjelaskan, 4 Pilar Kebangsaan bukan sekadar materi hafalan, melainkan nilai dasar yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ia pun memaparkan satu per satu poin penting yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pilar pertama adalah Pancasila sebagai dasar ideologi negara. Ade menegaskan, Pancasila merupakan pedoman utama dalam menjaga toleransi, persatuan, dan semangat gotong royong di tengah keberagaman masyarakat Indonesia. Menurutnya, nilai kemanusiaan dan keadilan sosial harus terus diperkuat agar masyarakat tidak mudah terpecah karena perbedaan pandangan.
Pilar kedua yakni Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Ade menyebut konstitusi menjadi landasan hukum yang mengatur hak dan kewajiban warga negara sekaligus menjaga jalannya demokrasi di Indonesia. Ia mengingatkan masyarakat agar memahami pentingnya taat hukum serta menjaga demokrasi yang sehat dan bermartabat.
Selanjutnya, pilar ketiga adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI. Dalam kesempatan itu, Ade mengajak masyarakat untuk terus menjaga keutuhan bangsa di tengah berbagai tantangan global. Ia menegaskan bahwa persatuan harus menjadi kekuatan utama Indonesia agar tidak mudah dipecah belah oleh kepentingan tertentu.
Sementara pilar keempat, Bhinneka Tunggal Ika, menurut Ade menjadi simbol penting bahwa Indonesia dibangun dari keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama. Ia menilai perbedaan bukan alasan untuk saling bermusuhan, melainkan kekayaan bangsa yang harus dijaga bersama.
Ade juga menyoroti fenomena media sosial yang kini kerap menjadi ruang pertarungan opini dan penyebaran informasi yang belum tentu benar. Ia meminta masyarakat lebih cerdas dalam menyaring informasi sebelum menyebarkannya kembali.
“Jangan sampai kita mudah percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya. Masyarakat harus kritis dan bijak menggunakan media digital,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, Ade turut mengajak masyarakat untuk kembali menghidupkan budaya musyawarah, semangat kebersamaan, serta kepedulian sosial di lingkungan masing-masing. Menurutnya, nilai-nilai tersebut merupakan kekuatan utama bangsa Indonesia yang tidak boleh hilang di tengah modernisasi.
Ia berharap sosialisasi 4 Pilar MPR RI dapat menjadi pengingat bahwa menjaga bangsa bukan hanya tugas pemerintah atau aparat negara, melainkan tanggung jawab seluruh masyarakat Indonesia.
“Kalau nilai kebangsaan kita kuat, bangsa ini akan tetap kokoh menghadapi tantangan apa pun,” pungkasnya.***














